Episode 04: Kamar Mandi Merah Muda


 

Kamar mandi merah muda itu seperti kotak misteri besar yang mengerikan: buatku. Terkadang aku merasa ada yang mengintip dari balik pintu kaca buram di ujung sana. Ada satu lorong yang membuat aku tidak pernah merasa aman. Buatku ada yang menanti di sana. Yang menungguku lengah dan akan memandangiku dalam diamnya. Namun, ternyata justru dari pintu yang satu lagi, dia muncul dan tertawa.

Sampai saat ini, aku tak pernah tahu, siapa dia. Hanya tawanya yang kudengar. Lalu, klik. Pintu menutup. Aku menoleh dengan pasi. Lenyap sudah kenikmatan gelenyar sabun yang meluncur di antara titik-titik air yang jatuh dari kepala shower. Habis. Mandi pun usai.

Sejak pertama kali aku menemukan pintu rahasia—begitu aku menyebutnya waktu tahu ada jalan menuju kamar mandi itu dari kamar Eyang Sus, rasanya seru sekali. Aku bisa berjalan berputar-putar dari dapur, masuk ke lorong tempat mesin cuci berada, menuju pintu putih dengan kaca kotak buram di bagian atasnya, masuk ke kamar mandi merah muda itu. Lalu lanjut keluar dari pintu rahasia, tembus ke kamar Eyang Sus, lalu keluar ke ruang tengah, balik ke ruang belakang, masuk lagi ke dapur dan menuju lorong tempat mesin cuci lagi.

Masuk ke kamar mandi merah muda ini membuatku tersenyum. Menemukan seluruh dinding yang dipenuhi keramik kotak 10x10 berwarna baby pink, membuatku serasa masuk ke dunia cotton candy. Lalu apa lagi yang bisa kulakukan kalau tidak bersenang-senang dengan menari dan menyanyi di dalamnya? Dinding-dinding merah muda itu ikut tertawa, bahkan dalam setiap nadanya mereka berlompatan bersama garis semen putih yang membatasi satu sama lain. 

Toilet putih duduk diam di situ, tak pernah membuatku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Buatku, ini tempat bersenang-senang, bukan buang hajat. Ada lagi satu kamar mandi di belakang yang menjadi tempat tujuanku ketika ingin melampiaskan residu makanan kemarin, pagi-pagi setelah bangun tidur. Kaca yang berbingkai perak di sisi dinding yang bersebarangan dengan toilet itu yang lebih menarik buatku. Mengaca sambil tertawa sendirian. Gila yang diperlukan pada waktunya.

Di sisi kiri dinding kaca, sebuah bath up bersemayam dengan anggun. Tentu saja dia juga dibalut dengan warna merah muda. Dia bagaikan kolam putih yang siap menampung angsa-angsa bebal sepertiku. Lalu bila disuruh mandi di sana—terutama ketika tidak kebagian kamar mandi ketika rumah itu penuh dengan manusia dari berbagai ukuran dan usia—tentu saja aku tidak menolak. Drama musikal dimulai. Musik dimainkan. Aku pun menari-nari sambil menikmati rintik air dan gelembung sabun yang kutiup ke sana kemari.

Tepat di hadapan kolam putihku, di dinding seberang sana, di situlah pintu tembusan ke kamar Eyang Sus berada. Dari sanalah suara itu berasal. Di suatu minggu pagi, ketika aku sedang dalam episode Swan Lake yang kesekian, pintu itu terbuka. Ada yang melihat. Tertawa. Lalu lenyap.

Terpaku aku kemudian. Perlahan kuakhiri acara mandiku. Aku harus bagaimana? Enggan rasanya keluar dari kamar mandi ini. Rasanya seluruh penghuni dan isi rumah telah menyaksikanku sedang mandi. Kupu-kupu kecil terasa sedang memenuhi rongga perutku dan membuatku ingin mengeluarkannya. Namun, aku ingin menatap wajah satu per satu manusia yang ada di luar sana. Siapa dari mereka yang melakukan itu, aku pasti akan menemukan dia.

Lima menit kemudian, aku berjalan di antara om-omku, tante-tanteku, eyang-eyang, ayah ibuku, serta sepupu-sepupuku. Ternyata aku salah. Tak ada satu pun raut wajah yang terlihat berbeda. Tak kutemukan kerling geli atau muka bersalah sedikit pun di antara mereka. Terutama para lelaki—karena jelas-jelas kudengar itu adalah tawa laki-laki. Namun, nihil. Nol. Gelap. Kosong. Tak ada satu orang pun yang membahasnya. Tak ada sedikit pun celetuk atau gurauan tentang peristiwa itu, bahkan sampai hari berakhir.

Pasti kau membatin, kenapa aku tidak bertanya saja? Menurutmu, mungkinkah kulakukan itu? Mengajak semua orang sekaligus ke lapangan tembak, lalu meminta mereka membunuhku beramai-ramai. Begitu?

Mungkin saat itu, aku hanya anak gadis kecil umur lima tahun yang dianggap lucu bagi mereka. Siapa pun yang melakukannya, aku memaafkannya, tetapi tak melupakannya. 
Atau, jangan-jangan, tidak satu pun di antara mereka yang melakukannya? Bagaimana menurutmu?

#windyeffendy #rumahmasakecil #kamarmandimerahmuda

PS: gambar hanya ilustrasi, ya, teman. Tentu saja di usia sekecil itu aku tak bisa memotretnya. Apalagi smartphone, selain belum punya, tentu saja benda itu belum lahir.

No comments