Catatan Awal 2024

Perjalananku di 2023 merupakan sebuah penemuan diri yang luar biasa. Aku sedikit menyesal mengapa harus kusadari ketika usiaku sudah mendekati kepala lima. But however, tidak ada kata terlambat bukan?

Pertanyaan yang dulu sering muncul: sebenarnya kamu mau apa?


Sebagai titik kulminasi dari semua jatuh bangun perjalanan hidup, aku merasa semua perjalanan dalam tahun 2023 benar-benar membuatku paham apa yang kuinginkan dengan hidupku, diriku, dan bagaimana aku harus melaju.


Me and Family

Dalam kehidupan rumah tangga, alhamdulillah aku merasa: yes, this is so right. Pilihanku terhadapnya, cara kami berinteraksi di titik ini, bagaimana kami saling memahami dan menyayangi. Indeed, dalam usia pernikahan di masa ini membuatku bisa berkata dengan keras untuk semua kalian yang sedang menjalani pernikahan di masa dini: never give up! 

Komitmen itu untuk dijaga, bukan dilanggar. Setiap ada turunan kesedihan, ingat kebahagiaan yang pernah dijalani. Setiap ada tanjakan bahagia, selalu mawas diri dan ingat untuk tidak berlebihan. Syukuri, nikmati, jalani. Tidak ada exit plan dalam rumah tangga apabila kita selalu tahu bagaimana dalam bersikap. Introspeksi, dan ingat pada tujuan saat memutuskan pilihan bersama pasangan dulu. He is the one. Eits, jangan protes dulu. Ini adalah kondisi normal yak, dengan catatan kalian tidak menikah terpaksa, dijodohkan, atau hil-hil mustahal lainnya ada di belakang semua itu. Beyond that, hidup masing-masing kalian yang jalani. Ini hanya dariku untuk sekadar berbagi.

Anak-anak, luar biasa. Kelulusan si sulung membuatku sadar: what's next? Masih banyak episode lain yang harus dijalani. Kehidupan dia sendiri yang baru dimulai, sementara aku dan suami hanya mendukung di belakangnya. That's what we still working on.

Si bungsu, sudah memegang SIM A, sudah berani menyetir sendiri. Kuliah. Ini mengingatkanku masa-masa dia tak mau lepas dari gendonganku, si pipi buled, yang bagaikan anak koala pada induknya, all the time. Yang menjerit bila lapar, sekeras-kerasnya, tak peduli di mana pun. Yang membuatku gelisah bila dia harus ke luar kota, tetapi dia selalu pulang dengan baik-baik saja. Yang membuatku sadar, dia sudah besar. Si bungsuku sudah dewasa. 


Waktunya Bekerja Bahagia

Waktu, tak pernah mau berpihak. Biarpun kita menangis sekerasnya meminta dia berhenti, no, it will not. Tahun kemarin membuatku merasa dipecut habis-habisan. 

Di  komunitas menulis yang kuikuti, awalnya aku menjabat sebagai koordinator divisi program. Namun, aku merasa waktunya aku berada di jalur yang tepat. Aku berkoordinasi dengan para sahabat, dan kini aku berdiri sebagai koordinator divisi desain. Demi apa? Demi kebahagiaan pekerjaan yang lebih maksimal. Don't push your self, that's all.

Selain harus terus mendampingi anak-anak dan suami, aku memaksa diriku berkarya habis-habisan. Baik dalam editing atau menulis. Diam, dan tulis. Amati, dan tulis. Tulis, dan perbaiki. Pikirkan, dan tulis. 

Catatan pekerjaan yang sempat diliput seperti di harian disway dan ngopi bareng:


https://harian.disway.id/read/748493/menyusuri-kisah-arek-suroboyo-dalam-antologi-cerpen-kopi-aren-di-benteng-kedung-cowek,


https://www.ngopibareng.id/read/kopi-aren-di-benteng-kedung-cowek


dan kutulis dalam blog ini pula di Catatan Editor: Mengusik Surabaya Lewat Cerita Pendek
sungguh menyenangkan. Alhamdulillah.


Beberapa tulisan yang sempat tayang di media tahun kemarin bisa dilihat di sini:

https://porch-litmag.com/before-tomorrow/

https://www.ngopibareng.id/read/mencicip-nikmatnya-kopi-tanpa-gula-dari-perlima

https://www.ngopibareng.id/read/telusur-seru-dunia-rempah-dan-sastra


Plus, satu resensi film pun yang sempat dimuat di harian disway:


Saat ini, aku fokus pada pekerjaan dengan riang gembira. Anak-anak sudah bisa berdiri sendiri, bukan yang disayang-sayang bagai bayi lagi—walau mereka tetap bayiku. 
Target-target baru, tugas-tugas baru sudah siap di depan laptop. 


Banci cuan? Mungkin itu hanya bonus. Yang jelas, aku sudah siap meninggalkan semua dunia baking yang dulu begitu menggiurkan dan menantang. Itu dulu. Sudah puas, sudah cukup.
Kini, aku menemukan diriku.



Satu penutup dari sahabatku yang luar biasa, Fifin Maidarina, ketika aku dipaksa "tampil" di Harian Surya.
Baiklah, mari digaskeun!


Let's rock, 2024!


#windyeffendy #penulis #editor






You Might Also Like

0 comments

Top Categories