Episode 17: The Princessa

Salah satu kue hits pada zamannnya adalah kue-kue princes. Sama pakemnya seperti si kue Elsa, dengan berbagai macam bentukan model gaun atau replika. 


Pakem pembuatan kue ini adalah satu boneka perempuan—yang dulu selalu menggunakan boneka Barbie, tetapi semakin lama semakin jangan lah, ya, sayang bonekanya mahal, jadi pakai yang replika saja—dan tumpukan kue bulat yang akan di-carving menjadi bagian dalam roknya. 

Carving, atau pemahatan, berarti mengubah bentuk kue yang tadinya bulat menjadi satu bentuk tiga dimensi. Untuk dasar kue barbie atau princess ini  biasanya base on kue bulat 20 cm atau 18 cm, tergantung harga dan kesepakatan dengan pemesan.

Tiga atau empat kue bulat disatukan dengan ganache—coklat batangan yang dilelehkan dengan campuran susu dalam komposisi 1:1 atau 1:2—atau selai, atau buttercream, ditumpuk menjadi satu ke atas. Dari atas ke bawah dibuat bentuk contong terbalik. Bagian atas lebih kecil dari bagian bawahnya. Trik membuat kue berbentuk rok ini adalah harus memperhatikan proporsinya. Sebesar apa rok ingin mengembang, atau sebanyak apa kue ingin disajikan kepada pemesan. Terlalu gembung roknya juga tidak akan cantik, terlalu kerempeng juga tidak menceritakan si putri yang berasal dari negeri dongeng. 

Bagian kaki si boneka barbie ini biasanya aku bungkus dengan plastic wrap, untuk kemudian ditancapkan ke dalam kue yang telah dibentuk tadi. Ada yang membuatnya dengan memutus bagian kakinya dan menambahkan tusuk sate tebal sehingga akan lebih mudah menancapkan bonekanya. Sementara aku lebih suka memberikan boneka dalam bentuk utuh sehingga dia yang berulang tahun bisa memainkan bonekanya selepas kuenya habis dimakan. 


Setelah si boneka tertancap rapi, barulah semua bagian yang akan ditutupi dengan icing sugar atau fondant—begitu gampangnya aku menyebut si plastisin yang bisa dimakan ini—diberi buttercream atau ganache tipis untuk merekatkan fondantnya. Aku lebih suka menggunakan buttercream tipis agar aplikasi fondantnya lebih mudah. Tak jarang juga aku menggunakan ganache bila memang diinginkan full coklat di kuenya. 

      

Bagian setelah itu yang paling seru. Membuat gaunnya dengan suka ria! Aku suka menantang diriku untuk membuat aneka rupa gaun dengan—ehm, aneh—unik. Tanpa lepas dari koridor permintaan pemesan, aku menambahkan beberapa hal untuk membuat kuenya berbeda dari yang lain. 

Yang paling suka adalah ketika harus membuat etnik barbie. Aku sempat belajar kepada salah satu suhu per-barbie-an, Teh Nicke, untuk membuat etnik barbie yang detail. Selanjutnya, dalam setiap pembuatan kue barbie, aku berusaha membuatnya lebih detail dengan penambahan ornamen atau asesoris.

Salah satu yang aku suka adalah dengan teknik painting. Kebanyakan barbie aku buat dengan menggunakan teknik painting untuk menambahkan shadow atau bayangan, kemudian memberikan detail motif. Seperti ketika aku membuat kue untuk sahabatku Lia Afif, dengan meniru persis salah satu gaun yang diproduksinya. 

Tak jarang di beberapa pesanan, aku tidak perlu membuat gaunnya. Yang kulakukan adalah membuat cerita di dalam kue itu dengan memanfaatkan tokoh atau karakter yang digunakan. Seperti di kue mermaid, atau si barbie charm, atau Rapunzel cake ini.

Bermain-main dengan detail ini membuatku melatih kesabaran. Banyak helaan napas panjang yang kulakukan sepanjang pembuatan kue-kue yang rumit karena aku bukan orang yang sabar sebenarnya. Namun, target dan tujuan pembuatan kue, termasuk bagaimana hasil jadinya nanti, selalu membuatku bertahan. Task must be done. Apa pun yang terjadi. 

#windyeffendy #thestoryofmycake #rumahkueica 





Share:

0 Comentarios