Menjelajah Samudra Kata-Kata dalam Kawan para Elang Laut

Ketika aku menerima buku ini untuk menunaikan tugas proofreading, aku bersiap-siap. Aku tahu, aku pasti akan tersesat, tenggelam, terbang, dan tenggelam lagi dalam kata-kata gubahan Metta Mevlana.



Aku mengenal Metta sejak berada dalam satu kelas penulisan yang diadakan oleh Padmedia Publisher. Sebagai rekan satu kelas, aku terpana melihat karya-karyanya. Aku seolah berjumpa dengan tulisan-tulisan yang sering kubaca di masa kecilku. Ternyata, Metta yang sangat suka membaca memang suka berkelana di dongeng-dongeng dan tulisan karya penulis asing. Pantas saja, karyanya menjadi tidak biasa. Itulah, aku sangat percaya, apa yang kita baca membentuk jiwa dan kata yang kita keluarkan.

Buku Kawan para Elang Laut  ini adalah karya solo Metta yang pertama. Novela ini adalah fiksi yang beraliran realisme magis. Namun, percayalah, engkau akan terseret sejak kalimat-kalimat pertama. Seperti kata Pakde Yoes Wibowo yang membuat desain sampul dan ilustrasi buku ini, Metta benar-benar melukis dengan kalimat. 

Memang benar, sungguh aku menyukai buku ini sejak kalimat pertama kubaca. Aku berharap aku bisa menulis seperti ini, tetapi tentunya, proses dan perjalanan yang kulalui tidak sama untuk bisa tiba di titik seperti Metta. Aku lalu memutuskan untuk menikmatinya dengan sepenuh hati. 

Buku ini bercerita tentang perjalanan Nas, seseorang yang mendapat perlakuan buruk oleh orang-orang di sekitarnya sejak kecil. Penggambaran perlakuan buruk dalam novela ini sangat menarik. Engkau tidak akan menemukan kata "buruk" atau "rundung"—karena semuanya telah terlukiskan dengan sangat sempurna dalam setiap kalimatnya.

Ketika kemudian muncul Hanbal—kakek buyut Nas, dan Ans—tokoh burung dalam dongeng kesayangannya dalam waktunya masing-masing, dengan hasratnya masing-masing, kisahnya pun menjadi semakin menarik. Bila engkau tersesat dalam kalimat-kalimat yang berputar dalam kehidupan Nas, Hanbal, dan Ans, bernapaslah sejenak. Baca kembali dan pahami. Kisah yang sebenarnya sederhana lalu bertautan dalam jalinan waktu kehidupan tokoh-tokohnya ini sebenarnya sangat dalam maknanya. 

Kisah dalam buku ini ditulis dalam beberapa sudut pandang, baik dalam PoV orang pertama atau PoV orang ketiga, yang juga bergantian diambil dari tokoh-tokohnya. Dengan sangat piawai, Metta memindahkan sudut pandang penceritaan sesuai kebutuhan ceritanya, dan membuat pembaca memahami isi kepala setiap tokoh-tokohnya, dan alasan-alasan mengapa mereka melakukan hal-hal yang diceritakan. 

Jangan membaca buku ini dengan terlalu polos. Jadilah pintar. Jadilah penikmat yang cerdas. Bersiaplah untuk melompat ke dunia lain di setiap pergantian babnya. Kemudian jangan terlalu menerapkan norma-norma dunia yang menurutmu paling baik. Lepaskan saja. Cukup nikmati buku ini, dan kagumi. 

Dengan dikawal oleh Anton Kurnia, penulis dan editor kawakan, kalimat-kalimat dalam buku ini  pun terjalin dengan nikmat. Aku sendiri pernah satu kelas bersama Metta di kelas Menggambar Kalimat yang diampu oleh A.S. Laksana, dan aku menjura kepada keduanya. Karya yang dihasilkan tidak biasa, nan juga luar biasa. 

Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk penikmat sastra Indonesia. Bahkan untuk kalian yang terbiasa memanjakan isi kepala dengan bacaan-bacaan santai, bacalah buku ini. Sekali-sekali mari kita paksa diri untuk menikmati tulisan dengan kalimat yang tak biasa, bahkan luar biasa.

Kepada Kak Metta Mevlana, selamat! 

Aku sangat-sangat-sangat berbahagia bisa melihatmu menelurkan karya perdana ini. 

Judul buku: Kawan para Elang Laut
Penulis: Metta Mevlana
Penerbit: Padmedia Publisher
Jumlah hal: viii+130 hal
Desain cover dan ilustrasi: Yoes Wibowo
Penata Letak: Farrah Alifia Putri
Info pemesanan: IG @padmediapublisher2022

Kunantikan karya-karya berikutnya, gaskeun!

#reviewbuku
#kawanparaelanglaut
#mettamevlana
#reviewbuku


You Might Also Like

0 comments

Top Categories