Seri Rumah Masa Kecil-Episode 01: Rumah Sarangan dalam Keabadian

Beberapa waktu lalu di Whatsapp Grup Alumni, teman-temanku semasa kuliah membahas rata-rata jumlah rumah yang pernah ditinggali dalam hidup. Sebuah penelitian menyebutkan setiap orang rata-rata pernah tinggal di 19 rumah, tetapi dalam survey singkat itu kami menemukan angka sebelas. 

Aku jadi menghitung berapa kali aku pernah pindah rumah selama ini. Termasuk rumah-rumah yang kutinggali semasa kecil, kos-kosan, hingga saat ini. Aku menemukan angka lima belas. Ternyata cukup banyak, haha. Namun, di antara semuanya, aku selalu ingat dua rumah masa kecil yang telah membentukku seperti ini. 

Kebetulan, Perempuan Penulis Padma memberikan tantangan #jurnalseptember  dengan tema Home Sweet Home setelah #jurnalagustus selesai. Boleh menulis apa saja tentang rumah. Nah, bila aku menulis masing-masing dua dari rumah yang pernah kutinggali, pas sudah di angka tiga puluh (hari), haha. Tapi aku merasa, lebih baik aku menuliskan kenanganku tentang dua rumah masa kecil yang paling kusayangi.

Maka mulai hari ini, secara berseri aku akan menuliskan tentang rumah Eyang di Jalan Sarangan, Malang, yang kutinggali di usia 0-3 tahun—dan masih sering ke sana hingga usia SMP—serta rumah pertamaku di Jombang, di Parimono yang kutinggali dari usia TK hingga masa SMP.

Berkali-kali aku telah menuliskan berbagai potongan perasaan tentang Rumah Sarangan (demikian aku akan menyebutnya setelah ini), baik di FB atau di blog. Kali ini aku akan mencoba membawanya kembali dalam rangkaian kata-kata untuk mengemasnya dalam keabadian. Rumah ini, terlalu banyak memberikan cinta dan kasihnya kepadaku sejak pertama kali aku mengenalnya. Aku yang lahir di Malang, tak tahu banyak soal Kota Malang, tapi aku tumbuh dan mengenal dunia di rumah ini. Berbagai gambar dalam ingatan berkelebat bagaikan potongan film yang membuatku merasa rindu pada setiap sudutnya.

Rumah ini telah dijual Eyang lama sebelum hari ini. Tapi aku masih merasa hidup dalam semua kenangan itu. Sebuah rumah yang tak akan pernah aku kunjungi lagi karena telah bertransformasi di dunia nyata. Namun dalam diriku, aku masih berlari ke sana kemari menikmati setiap detil rumah tercinta ini.

Eyang pun telah lama meninggal. Barang-barang yang ada di rumah itu telah tersebar di rumah Mami, Tante-Tante, bahkan ada yang ikut denganku di rumah yang kutinggali sekarang. Memang, aku tahu. Kita tidak boleh menyimpan barang, cukup simpanlah kenangannya. Tapi selagi masih bisa, biarlah satu dua di antara mereka menjadi pengingat masa kecilku yang luar biasa.

Setelah rangkaian cerita tentang Rumah Sarangan, aku akan menuliskan tentang Rumah Parimono. Satu di antara rumah dinas yang berjajar di jalan itu, kompleks kecil khusus para dokter Rumah Sakit Jombang di waktu dulu. Itu bukan rumah, tapi itu adalah taman bermainku. Terlalu banyak yang harus disimpan lalu diceritakan kembali, tapi biarlah catatan-catatan di Jurnal September ini menjadi pengingat yang abadi. 

#windyeffendy #jurnalseptember #perlima #perempuanpenulispadma #perlimamenulish1 #rumahsarangan #serirumahmasakecil #episode01












Share:

0 Comentarios