Episode 02: Batu Hitam dan Bunga Mawar


 Yang paling kuingat adalah batu-batu kecil berwarna hitam di pagar dan rangkaian tanaman mawar merah yang ditanam Eyang di halaman depan. 

Rumah Sarangan ini terletak di pojok jalan. Pagarnya dari besi bercat putih tulang, yang separuh bagian bawahnya adalah semen yang berhiaskan batu-batu kecil yang kemudian dicat hitam. Saat kusentuh pagar semen bercat hitam itu, batu-batu yang penuh di permukaannnya terasa halus dan memberikan rasa geli yang menyenangkan di telapak tangan mungilku, dulu. Aku suka menyentuhnya perlahan sambil berjalan berkelling di taman depan. Hanya ada aku dan mereka, dengan sensasi gelitik kecil yang kurindukan hingga kini.

Saat itu, kukira batu itu berwarna hitam. Tentu saja saat itu aku tak peduli dan tak tahu akan warna cat hitam yang dipakai dan bahwa di antara batu-batu itu ada semen yang menopang pagar besi di atasnya. Bagiku, itu adalah batu hitam yang cantik. Secantik deretan tanaman mawar di sisi lain halaman.

Taman depan itu adalah tempat bermainku. Ibuku selalu berkata, hati-hati, batang mawar itu berduri. Aku tak pernah percaya sampai tertusuk di suatu hari. Aku tak menangis, hanya terkejut. Seperti ini rasanya tertusuk duri mawar.

Tanaman mawar yang dipelihara Eyang itu membingkai fasad depan rumah yang berwarna coklat muda. Ketika bunganya mekar, tampak seperti titik-titik cantik yang membuat rumah itu semakin mempesona, di mataku. Eyang Kakung adalah pegawai dinas pertanian, yang kepiawaiannya tergambar dengan suburnya aneka tanaman di halaman rumah mereka. Termasuk si mawar itu. 

Sayangnya aku tidak tertarik untuk mengikuti jejak mereka dalam bidang tanaman. Cukup halaman depan yang dulu terasa sangat luas itu menjadi dunia yang memabokkan untukku. Petualangan dari sudut dekat garasi hingga ke sudut lain depan pasar adalah permainan yang tak ada akhir bagiku. Teras depan yang tidak terlalu besar adalah bagian darinya. Dikelilingi oleh pembatas dari batu yang serupa pagar depan rumah, aku membuat kotaku sendiri. Imajiku tak lekang dari pikir, menari-nari tak henti dan menciptakan berbagai dunia baru yang tak habis dijelajahi. 

Aku masih ingat aroma manis yang lembut membelaiku dari bunga mawar itu. Tak pernah aku memetiknya sekali pun. Aku menyukai saat dia mengangguk-angguk di batang, kala tertiup angin lembut. Aku merasakan halusnya kelopak yang berwarna merah cerah itu di bawah kulit jemariku. Lengkung kelopaknya yang bergelung keluar, mengajariku bahwa indah itu tak selalu harus tampak penuh. Kelung antara kelopak satu dan yang lainnya, menunjukkan padaku bahwa ada ruang yang dibutuhkan di antara kedekatan.

Mawar-mawar itu, adalah kencan pertamaku dengan bunga-bunga. Seperti yang pernah kubilang, aku mencintai bunga-bunga.

#windyeffendy #jurnalseptember #perlima #perempuanpenulispadma #perlimamenulish2 #rumahsarangan #serirumahmasakecil #episode02







No comments