PEMILIHAN KETUA OSIS




Dulu, waktu SMA dan SMP, selalu ada pemilihan ketua OSIS. Ye kan? 
Jabatan heroik idola para remaja.
Idealnya, yang menjabat adalah yang pinter, mudah bergaul, mudah beradaptasi, banyak temen, banyak disukai temannya. Yang jelas harus bisa memimpin, mampu bernegosiasi, mampu menyelesaikan masalah, fokus pada solusi, berjiwa leader bukan bossy.
Itu idealnya. Plus bonus kalau bisa tercapai: kudu ganteng kalo cowok, ato cantik bila cewek. Kalo bisa sih. Kabarnya begitu.
Iklimnya, bisa berbeda ketika di SMP dan di SMA. Ketika masih SMP, maka pembina OSIS aka guru pembina pengurus ini masih setia mengawal ketat dan siap memberikan solusi bila ketua dan jajarannya berkonsultasi tentang apapun.
Ketika SMA, kebanyakan diberikan tanggung jawab lebih untuk bisa mengambil keputusan sendiri, memilih mana yang benar. Bekerja dalam team lebih banyak porsinya.
Been there both, all situations.
Lalu, suatu ketika. Ada sebuah pemilihan ketua OSIS, dengan beberapa calon.
Yang satu tegas, kuat, solutif, ramah, dan juga sanggup menyelesaikan masalah.
Yang satu, peragu, baik hati, ramah, jujur, dan bijaksana.
Hampir sama. Good persons semua.
Kekuatan berimbang.
Kemudian, pemilihan itu dimenangkan oleh sang sosok yang peragu.
Saya mengenal betul yang satu ini. Saya heran mengapa dia yang dipilih. Saya tidak meragukan kebaikan hatinya, tapi sikap peragunya bisa membuat dia lambat mengambil keputusan.
Lalu, datanglah sang pembisik kepada saya.
"Kamu tahu kenapa dia yang dipilih, Win?"
Saya menggeleng. "Enggak, mas. Kenapa ya?"
"Karena dia lebih mudah disetir oleh guru-guru. Karena dia lebih mudah diawasi. Karena dia lebih gampang mengikuti kehendak dewan guru."
Saya pun tercenung.
Wow, ternyata, dunia tak seputih yang saya kira. Iklim dan kekuatan yang ada ternyata lebih kuat dari yang terlihat. Ternyata yang ada di atas atau di belakang sana tetaplah yang mengambil keputusan tertinggi, dan dia butuh tangan-tangan cantik untuk mempermudah jalannya.
Baiklah, ketika tahun pemilihan kesekian yang menyeret seorang teman - yang kebetulan adik kandung ketua OSIS sebelumnya - menjadi kandidat, dia sengaja menggagalkan diri. Dengan pidato yang tidak bermutu. Juga karena ada yang membisikkan lagi kepadanya, kamu tidak mungkin menang. Karena ini bukan kerajaan turun temurun.
Dia tertawa. Saya ikut tertawa. Karena saat itu bukan itu kebutuhannya, jadi mari digagalkan sekalian, dan Alhamdulillah dia sangat bahagia karena tidak terpilih.
Cukup kemudian ternyata dia menjadi pembayang yang membisikkan kata-kata sakti pada yang menang.
Ternyata, siapa yang menang??



Disclaimer: 
Itu, cuma cerita fiksi tentang pemilihan ketua OSIS.
Nama dan kejadian tidak merujuk pada siapapun atau kejadian apapun.
#storyoftheday #windyeffendy #love #life

No comments