Memang belum takdirnya aku memiliki tiga anak. Cukup dua, kata Allah. Baiklah, akan kuterima. Walau sempat berlarut-larut sedih, aku bisa bangkit lagi. Tapi kami bertekad untuk tidak menambah momongan lagi setelah itu. Kisahnya ada di sini.
Ramadan yang lain juga sangat beragam. Ada saat-saat undangan buka bersama tak henti-hentinya. Teman komunitas, teman SMA, teman SMP, teman SD, teman eks kantor, dan banyak lagi. Saat-saat masih bisa menikmati buka bersama, rasanya seru saja. Namun, sekarang aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah bersama suami dan anak. Rasa bersalah meninggalkan mereka untuk kabur buka bersama bareng teman-teman, tumbuh di hati lebih besar dari keinginan bukber.
Ramadan lain yang paling menyakitkan adalah Ramadan 2021. Itu adalah Ramadan yang membuat aku, dan seluruh keluarga besarku, harus menerima kenyataan terpahit: Papi meninggal dunia. Baru ini aku menuliskannya segamblang ini. Biasanya aku selalu menghindari untuk menulis tentang hal itu.
Sejak November 2020, Papi memilih tinggal di Surabaya setelah sebelumnya sudah pulang balik untuk waktu yang sangat lama. Kegiatan dan praktiknya di Jombang, ditinggalkan begitu saja. Itu karena Papi harus bolak-balik ke Rumah Sakit Darmo untuk berobat. Iya, kemoterapi. Tidak bisa tidak. Panjang ceritanya ini bila harus dituliskan. Kali ini, aku akan fokus pada Ramadan.
Ramadan 2021 jatuh pada bulan April. Saat itu, Papi sudah dalam kondisi lemah. Dibawa ke rumah sakit untuk pemulihan di tengah Maret sepertinya, tapi Papi sudah tidak mau makan dengan enak. Mami menemani di rumah sakit, dan tidak mau digantikan. Aku hanya bisa bertindak sebagai support dan tukang logistik, antar jemput dan ambil baju kotor di rumah sakit.
Hingga di awal April, Papi sudah masuk ke kondisi yang tidak bagus. Bahkan dokter meminta keluarga untuk membawa pulang untuk perawatan paliatif. Tapi, mami bertahan. Awal April itu, adikku dan keluarganya pulang ke Surabaya. Aku mengancam dia untuk segera pulang karena sudah ada feeling yang tidak bagus di hatiku.
Akhirnya, tanggal 7 April pagi, aku dan suamiku bertugas mengantar Mami yang istirahat di rumah. Adik lelakiku berjaga di rumah sakit. Pagi-pagi, aku bersiap berangkat. Sesampainya di rumah sakit, aku ajak adikku pulang. Aku sempat berpamitan kepada ayahku yang terpejam di tempat tidur. Kubisikkan di telinganya. "Pap, aku pulang. Mami di sini. Nanti aku balik lagi."
Sempat kurasakan mata beliau bereaksi, tapi aku hanya melihat sekilas.
Lalu aku pamit.
Sesampainya di rumah, aku menyiapkan sambal rica yang kubuat untuk kedai rahang tuna bakarku. Suasana rumah sangat ramai karena ketiga keponakanku harus siap-siap kelas daring selama Ramadan. Belum tuntas aku memasak, telepon berdering. Hanya tangis ibuku yang kudengar. Aku harus lekas kembali ke rumah sakit.
Aku cuma bisa menyambar jaketku tanpa sempat berganti baju. Masih dengan celana jeans belel dan kaos butut, aku bergegas ke sana. Belum sampai setengah perjalanan, tante dari kakak iparku yang seorang dokter dan cukup dekat dengan kami, yang mendampingi kami selama perjalanan sakitnya Papi, menelepon.
She said sorry. "Maaf, ya, Win."
Just that, and I know.
And you know what? Aku tidak bisa menangis. Aku hanya bisa sibuk berpikir, apa yang mau dikerjain dulu sekarang. Mami yang menangis tak henti-henti, ditemani adiknya. Akhirnya, aku sibuk mengurus administrasi rumah sakit dengan adik dan kakakku, sementara suamiku memelesat naik mobil ke Jombang untuk mengurus pemakaman. Kami akan berangkat setelah jenazah siap.
Dan begitulah. Hari itu kulalui dengan mengejar ambulans yang berisi jenazah Papi. Adikku berada dalam ambulans, menemani Papi ke peristirahatan terakhirnya. Aku menemani mami dan tanteku yang menangis tak henti di mobil, sambil menavigasi supir Papi yang membawa mobil itu. Kakakku membawa anak-anakku, istri adikku, dan semua keponakan berangkat ke Jombang menggunakan mobilnya.
Rumah dikunci begitu saja. Aku tak sempat memikirkan kucing-kucingku, tetapi anakku sudah mengurusnya. Namun, hari itu, tiba-tiba saja aku tak bisa berkata-kata.
Itulah mengapa, berat bagiku menuliskan Ramadan. Entah mengapa hari ini begitu mudah. Mungkin karena sudah tiba saatnya dibagikan.
Ramadan kali ini, hanya ada aku, suamiku, anakku yang kecil dan 12 kucingku di rumah. Mami tinggal di Jombang, tak mau di sini karena banyak pesanan sprei dan kue, begitu katanya. Anak sulungku memilih tidak pulang di Ramadan dan lebaran ini karena waktunya berdekatan dengan wisuda adiknya April nanti. Dia berpuasa sendirian di sudut Tangerang sana.
Baiklah, tak mengapa. Terima kasih, Ya Allah. Semuanya indah.
Alhamdulillah wa kulli haal.
~end
#windyeffendy #ramadan #ramadanselaluberbeda


No comments
Post a Comment