RAMADAN YANG SELALU BERBEDA (PART 1)



Harusnya tulisan ini ditulis pada satu Ramadan, bukan hari ini. Ini sudah hari kesepuluh Ramadan. Namun, angan-angan untuk menulis tentang ini lenyap begitu saja setiap hari. Antara tak mampu, atau tak berani. Beda tipis.

Setiap Ramadan yang kulalui selalu berbeda. Tidak pernah ada yang sama. Bila harus dirunut untuk menuliskan Ramadan yang tak pernah sama itu dari tahun ke tahun, mungkin aku tidak akan sanggup. Namun, ada beberapa Ramadan yang membuatku selalu tidak bisa lupa.

Salah satunya adalah Ramadan pertamaku. Ketika aku bertekad kuat untuk ikut puasa. Bila tidak salah ingat, waktu itu aku masih berusia 3 tahun. Ramadan hari pertama itu, aku ikut kedua orang tuaku ke rumah Eyang di Kota Malang. Waktu itu, aku bertekad, bulad. Harus puasa. Aku bilang kepada ibuku, aku mau ikut puasa.

Namun, apa yang terjadi, Esmeralda? Iyak betul. Aku tidak dibangunin. Yang ada aku bangun tergeragap karena mendengar suara piring dan sendok berdenting-denting. Aku marah, aku keluar kamar. Yang lain tertawa. Aku cuma bisa cemberut sambil duduk di meja makan. Yang lain tetap tertawa. Apakah itu suatu hal yang perlu ditertawakan? Ramadan pertamaku, aku terluka.

Lalu, ada Ramadan yang aku rajin sekali ke masjid kompleks. Itu terjadi sewaktu aku masih duduk di bangku SMA. Tentu sebab musababnya sudah bisa ditebak. Ada mas-mas ganteng dari universitas sebelah yang rajin tarawih. Oh, syalala, dong. Aku senang sekali. Jadi, walaupun ada motivasi tersembunyi, aku mencatat Ramadan itu sebagai sebuah Ramadan yang menyenangkan. Walau kini merasa, ya Allah, maafkan, motivasiku sungguh durjana. 

Akhir daripada melodrama tarawih karena mas ganteng itu sungguh luar biasa. Aku yang hanya senyam-senyum dengan si mas itu lama-lama bosan. Aku yang bosan, bukan mas-masnya. Tidak ada tantangan lebih. Gitu-gitu aja. Ya sudah, game over. 

Kemudian, ketika aku sudah menjadi bakul kue, Ramadanku tidak pernah lagi khusyuk. Yang ada adalah kejar-kejaran dengan bertumpuk loyang dan panasnya oven. Sibuk mengurangi jam tidur karena harus menyelesaikan pesanan. Bermacam-macam kisahnya. 

Ada yang menjadi Ramadan dengan puluhan Rainbow Cake yang lagi nge-hits kala itu, ada yang menjadi Ramadan khusus cake tanpa kue kering, ada yang jadi Ramadan kue kering yang tak kunjung henti, ada Ramadan dengan penunggu setia kastengel gosong--yaitu adikku, dan ada juga Ramadan yang penuh dengan pesanan kue jadul seperti plintir, bunga gem, dan sebangsanya. 

Ramadan kue kering terheboh adalah ketika aku tinggal di Semarang. Pesanan kue kering berloyang-loyang kukerjakan sambil duduk di lantai. Ketika aku capek, dan ingi berdiri, jeng jeng: aku tidak bisa berdiri. Punggungku sakit sekali. Sakit yang luar biasa, sampai aku menangis Ternyata, setelah ke dokter, aku didiagnosa skoliosis. Walaupun ringan, tetapi berbagai hal tentang skoliosis ini membuatku patah hati. Yang jelas, kesibukan membuat kue kering seketika kuhentikan

Tidak bisa tawarih di masjid. Harus salat sambil duduk. Harus jalan tertatih-tatih. Bahkan acara pulang alias mudik ke Jawa Timur harus kulalui sambil menangis: duduk dengan selonjor di kursi mobil dari Semarang sampai Surabaya. 

Sakitnya luar biasa. 

Namun, Ramadan itu membuatku sangat-sangat berhati-hati dengan diriku. Lambat laun aku membaik, tetapi tidak memforsir diri pada urusan perkuean lagi bila dirasa tubuh sudah mulai menjerit.

Ada satu Ramadan yang juga menyenangkan sekaligus menyedihkan. Aku mengambil kursus dekorasi kue bersertifikat ke Negeri Singa selama satu minggu, pas bulan Ramadan. Seminggu sebelum berangkat, aku positif hamil anak ketiga, masuk bulan ketiga. Aku bingung. Semua sudah dibayar. Hotel, tiket pesawat, biaya kursus; tidak mungkin aku membatalkannya. Akhirnya, suamiku memutuskan ikut untuk menemani dan menjagaku.

Alhasil, selama kursus aku tidak puasa. Suamiku yang berpuasa sendirian di negeri orang. Namun, aku ikut menemaninya mencari makanan buka puasa. Untuk sahur, dia berkeliaran sendiri ke Sevel atau membeli makanan malamnya untuk dimakan di penginapan. 

Yang cukup mengagetkan ketika tiba di Singapura, penginapan alias hostel yang kupesan ternyata tanpa lift. Awalnya kan tidak ada masalah dengan itu. Tapi karena ada jabang bayi kecil ini, aku harus super hati-hati. Alhamdulillah, kehadiran suamiku di sana sangat membantu.

Sepulang kursus, aku harus mengurusi order kue lebaran yang sudah masuk. Kubatasi pesanan, tak menerima lagi. Namun, tak ayal aku sangat kelelahan. Seminggu setelah lebaran, aku mulai tepar. Ada flek-flek yang keluar. Sementara itu, ibu dan ayahku harus berangkat ke Australia untuk konferensi dokter. Aku harus berjuang sendiri bersama suamiku. 

Dan, demikianlah. Aku keguguran. Janin dalam kandunganku tidak bertahan. Dengan air mata, aku merelakannya. Kata dokter, janin tidak berkembang. Jadi bukan soal kelelahan atau apa, tapi memang bibitnya kurang bagus. Tak urung, aku merasa bersalah juga membawanya ke mana-mana dan membuatnya harus ikut berjuang di bulan sebelumnya.


(to be continued ke part 2)

#windyeffendy #ramadan #kisahramadan #ramadanselaluberbeda



No comments