Membuat buku itu mudah! Itu yang sering dipromosikan oleh para penerbit. Memang, membuat buku itu sangat mudah. Hanya saja, ada beberapa proses penting yang mendukung semua perjalanan sebuah naskah mentah menjadi buku yang bisa dibaca orang lain. Mau tahu?
Buku yang dijual di toko buku besar tentu sudah melalui perjalanan panjang. Terkadang, para pembaca hanya melihatnya sebagai sebuah produk. Bagi penulisnya, itu adalah sebuah karya, bahkan menjadi bayi terkasih yang disayang-sayang. Apalagi bila itu adalah buku pertamanya. Untuk penerbit, itu adalah sebuah project. Untuk orang-orang yang terlibat di dalamnya, itu adalah sebuah kepuasan.
Bermula dari Sebuah Ide
Bila dirunut ke belakang, sebelum menjadi sebuah buku yang berisi lembar-lembar cerita yang tersusun dari ribuan bahkan ratusan ribu kata, ia hanyalah sebuah ide di kepala. Sebuah ide yang muncul bagaikan oase di benak penulisnya, yang kemudian melalui jalan panjang untuk bisa dituangkan ke atas kertas.
Tidak banyak orang yang bisa menuangkan isi kepalanya dengan baik ke dalam tulisan. Proses mewujudkan satu ide menjadi ribuan kata pasti sangatlah panjang. Mulai dari harus membuat premis, menyusun kerangka, memastikan penjabaran kerangkanya sudah sesuai dengan premisnya, lalu mulai mengatur kata menjadi kalimat yang harus bisa dipercaya pembacanya.Lalu menuju kata selesai. Itu tidak mudah. Benar, Esmeralda, itu tidak mudah.
Terkadang ide pun tergeletak begitu saja tanpa bisa mencapai kata tamat. Jangankan kata tamat, kerangka pun tak tuntas dijabarkan. Ide tinggallah ide belaka. Ide yang bagus adalah ketika ia berhasil diwujudkan, bukan dibiarkan nelangsa.
Sementara untuk menuntaskan sebuah karya, kerja keras harus dicurahkan. Waktu, tenaga, dan tidak jarang: uang, harus disiapkan oleh penulis yang memang ingin bisa menyelesaikan tulisannya.
Apakah saya sudah berhasil menakut-nakuti Anda yang ingin membuat buku?
Tenang saja, tidak sengeri itu. Yang jelas, bila memang serius, kita memang harus mau meluangkan dan memberikan waktu, tenaga, dan uang untuk bisa melahirkan satu karya yang baik.
Ketika Naskah Selesai
Anggaplah naskah itu telah selesai. Lalu apakah ia akan menjadi buku begitu saja? Oh, tentu tidak. Masih banyak hal yang harus dilakukan.
Yang pertama, swasunting. Satu proses (sederhana) yang sering dilewatkan penulis. Selesai adalah selesai bagi mereka, lupa bahwa sebelum diajukan ke penerbit atau diproses untuk jadi buku harus melewati satu proses penting: self-editing.
Pentingnya swasunting adalah untuk mengurangi kesalahan sebelum diserahkan kepada editor. Baik itu kesalahan dalam cerita ataupun kesalahan teknis. Terkadang, penulis merasa keberadaan editor yang akan menyelamatkan tulisannya. Padahal, ketika tulisan buruk yang diserahkan kepada editor, yang akan diterima hanyalah penolakan.
Tulisan selesai draft pertama, masih harus melalui proses draft kedua, ketiga, dan seterusnya. Hanya penulis yang mampu memperbaiki tulisannya sejak awal proses. Yang penting, jangan terlalu lama melakukan swasunting juga. Proses ini bisa menjadi singkat dengan tiga hal mudah: latihan, latihan, latihan.
Setelah itu, naskah akan diterima editor. Editor melakukan tugasnya untuk menyunting secara esensi ataupun editorial. Proses tek-tok dengan penulis bisa singkat, bisa lambat. Tergantung seberapa banyak yang harus diubah, seberapa cepat penulis bisa merevisi, atau seberapa intens dan bermaknanya sebuah diskusi antara penulis dan editor.
Lalu, setelah editor selesai bertugas, apa yang harus dilakukan?
Simak kelanjutannya besok, ya!
#windyeffendy #mudahnyabikinbuku #penulis #editor

No comments
Post a Comment