Proses yang dianggap penulis adalah segalanya adalah ketika menulis. Memang benar, di sanalah jantung hati berada. Inti dari sebuah buku yang sangat penting. Namun, naskah mentah tidak akan berarti tanpa kerja keras beberapa peran pendukung di baliknya.
Setelah selesai menulis, naskah diserahkan kepada editor. Proses penyuntingan bisa lambat, bisa cepat. Tergantung pada beberapa hal yang harus dikoordinasikan dengan penulis. Namun, penulis tetap bertanggung jawab pada tulisannya sendiri. Tugas membuat tulisan yang bagus bukanlah terletak di pundak editor. Sang penyunting hanya bertugas memolesnya, memperbaiki, dan juga mengarahkan penulis (agar tidak tersesat terlalu jauh).
Tidak Sekadar Disulap
Setelah proses editing selesai, ada yang namanya proses layout atau tata letak. Penulisan di aplikasi Word atau semacamnya menggunakan format A4, dengan aturan margin dan pengaturan yang berbeda untuk buku. Proses tata letak adalah meletakkan naskah dalam format yang sesuai dengan ukuran buku dan menyesuaikannya dengan teknis pencetakan buku. Marginnya berbeda dengan dalam naskah. Ukuran font atau jenis hurufnya juga pasti sangat berbeda. Spasinya pun diukur dengan cara yang berbeda.
Apakah tidak bisa membuat buku yang tata letaknya diatur dengan Word? Bisa saja. Akan tetapi, pengaturannya terbatas. Bila hanya memerlukan pengaturan yang sederhana, tentu bisa. Namun, jangan berharap buku Anda bisa cakep dan cantik manis seperti yang ada di toko-toko buku.
Hal itu karena ada beberapa hal teknis yang tidak bisa diatur dengan mudah dalam Word. Beberapa software yang banyak digunakan untuk tata letak adalah Adobe InDesign, Corel Draw, atau bahkan Canva. (Saya sendiri pengguna Adobe InDesign dan Canva. Tergantung harga pesanan Anda, mau harga Canva, atau harga Adobe! LOL! Corel Draw sudah saya tinggalkan karena sudah terlalu yesterday.)
Pengerjaannya cukup lama, tidak sekadar drag and drop. Banyak hal yang harus diatur. Lalu muncul pertanyaan:
Mengapa susah sekali, sih? Kan banyak cara mudah?
Memang betul, banyak cara mudah. Namun, pada akhirnya, kualitaslah yang menentukan.
Lalu jangan lupa, ada yang namanya cover buku. Cover yang baik dengan penerbit yang kredibel tidak akan menggunakan hasil dari Akal Imajinasi alias AI.
Tapi itu lebih mudah, Mbak!
Iya, memang. Balik saja kepada Anda, mau bukunya biasa saja alias rata-rata, atau mau outstanding? AI memang juga bisa memberikan cover atau sampul yang menarik, tetapi sentuhan personal yang membedakannya.
Setelah semua elemen lengkap, ada faktor lain seperti mencetak. Tanpa percetakan, buku hanyalah dalam versi digital. Kecuali Anda ingin membuat e-book, faktor percetakan yang baik dan amanah tidak bisa dihindari.
Waktunya Menjual Buku
Setelah itu masih ada lagi proses promosi, menjual buku. Bisa saja dengan bedah buku, pemberian merchandise, book-signing. Lalu peluncuran buku. Banyak pro kontra tentang ini. Perlukah peluncuran buku? Tergantung pada proses promosinya. Peluncuran buku juga menjadi salah satu bagian dari aktivasi buku baru. Namun, perhitungan biaya dan target market juga penting. Tanpa itu, acara peluncuran luring hanya akan menjadi arena bakar duit saja.
Bagaimana seorang penulis ingin mempromosikan bukunya adalah pilihan. Termasuk dalam memilih penerbit. Apakah nanti penerbit yang dipilih akan support, atau penulis harus berjibaku menjual bukunya sendiri, hal itu harus diperhitungkan. Keterbatasan dana seringnya membuat penulis ingin keseluruhannya ditanggung oleh penerbit, dan ia menerima royalty. Bisa, asalkan naskahnya diterbitkan oleh penerbit mayor atau besar.
Bila bekerja sama dengan penerbit indie atau penerbit kecil, kemungkinan besar ada yang harus dibayar oleh penulis. Terutama harga cetaknya. Kemudian penulis harus memikirkan bagaimana caranya bisa balik modal dengan menghitung harga jual dengan cermat. Jangan lupa, masih ada biaya-biaya promosi lainnya seperti merchandise bila perlu, atau biaya kerjasama dengan pihak ketiga untuk penjualan, atau biaya pengemasan atau biaya peluncuran.
Bukan tidak bisa, tetapi hal-hal yang sedemikian terkadang tidak dipikirkan di awal oleh penulis. Ketika disodori jumlah yang harus dibayar, terkejutlah mereka. Lalu pingsan. Akhirnya, naskah terbengkalai.
Harus Pilih yang Mahal atau Murah?
Bicara soal menerbitkan sendiri atau bekerja sama dengan penerbit indie, ada harga yang harus dibayar. Banyak penerbit indie yang menawarkan harga dengan sangat murah. Menurut penelusuran saya, kebanyakan yang menjual super murah itu tidak melakukan kurasi atau editing. Terima naskah, edit seadanya, layout minimalis dengan template, lalu cetak. Itu yang membuat harga yang ditawarkan menjadi murah. Mereka tidak bicara kualitas, mereka bicara kuantitas.
Lalu, apakah harus memilih yang mahal? Tidak harus. Sekali lagi itu pilihan. Ketika sebuah buku dikemas dengan seadanya dan dikemas dengan penuh cita rasa, hal itu membawa pada satu urusan bernama harga. Iya, harga yang harus dibayar oleh penulis.
Jangan lupa, buku terbit bukan sekadar lahir dari naskah yang selesai. Ada jasa editor, ada jasa tukang cover, ada jasa tukang layout, juga orang-orang yang menyiapkan file menjadi siap cetak, lalu ada pula yang mengurus izin terbit atau ISBN atau QRSBN, dan sebagainya. Semua bekerja sebagai team. Ketika orang-orang ini dibayar dengan harga murah, jangan heran ketika kualitas yang diberikan sekadar rata-rata.
Ada harga, ada rupa. Pembuatan buku custom memang tidak bisa terbilang murah, tetapi karya yang dihasilkan abadi.
Masih penasaran? Kontak kami di sini.
#windyeffendy #jasapembuatanbuku #papermindcreativestudio #bikinbukuitumudah



No comments
Post a Comment