Mendengar Bisikan Kacang Merah

 Resensi buku Pasta Kacang Merah  karya Durian Sukegawa oleh Windy Effendy

Judulnyalah yang memikatku pertama kali. Judul sesederhana itu, membuatku bertanya-tanya, tentang apa buku ini. Ternyata, kisah yang ditawarkan melebihi dugaanku.


Seperti judulnya, cerita dalam buku ini berkutat pada persoalan pasta kacang merah. Judul asli novel ini adalah An (あん), cukup singkat. Kalimat pembukanya sudah langsung memberikan gambaran besar bagaimana cerita akan dibingkai. Kalimatnya berbunyi: Toko Dorayaki Dora Haru.

Di toko inilah, pembaca akan berkenalan dengan Tsujii Sentaro dan Yoishii Tokue. Keduanya akan membawa pembaca turut menjaga sebuah toko dorayaki yang bernama Dora Haru. Sentaro, adalah kepala toko Dora Haru, sementara Tokue adalah seorang wanita yang datang ke Dora Haru untuk mencari pekerjaan. Ada kekurangan fisik Tokue yang membuat Sentaro meragu untuk menerimanya sebagai pegawai. Namun, tak dinyana, Tokue memiliki keahlian membuat pasta kacang merah yang sangat lezat. 

Berawal dari sana, cerita pun bergulir. Bahwa ada hal-hal di masa lalu yang sejatinya tidak perlu dipersoalkan, tetapi tidak bisa diabaikan. Dari cerita ini, aku melihat betapa kuatnya sebuah stigma melekat di  masyarakat hingga bisa membuat seseorang tak bergerak. Tidak bisa keluar dari gelembungnya, berkutat dalam ketakutan-ketakutannya, berusaha menerima dirinya yang selalu berjumpa dengan cibiran-cibiran tajam, itulah mereka yang menanggung beban sebuah cap buruk—apa pun itu. 

Seringnya siksaan itu ada pada diri sendiri, ketika rasa bersalah muncul bertubi-tubi, mengapa hal itu dulu bisa terjadi, mengapa dia tidak mengambil langkah begini, mengapa dia tidak memutuskan berbeda, mengapa bisa terjadi pada dirinya—yang bisa berujung pada keputusasaan dan akhirnya mengambil jalan pintas: menyerah kalah pada hidup. Mereka yang tidak memiliki resiliensi (kemampuan individu dalam mengatasi, melalui, dan kembali pada kondisi semula setelah mengalami kesulitan—Reivich dan Shatte, 2002), akan terjun bebas dalam kegelapan dan tidak bisa kembali pulang. 

Dua tokoh utama dalam buku ini, Sentaro dan Tokue, sama-sama memiliki gelembung masa lalu. Benang merah keduanya sama: berusaha untuk bangkit dari episode gelap itu dan maju ke depan. Perihal maju ke depan pun terantuk pada persoalan penerimaan oleh orang di sekitar mereka. Kemudian hadirlah Wakana, seorang pelajar yang kesepian. Kisah ketiganya pun bertaut dengan manis. Konflik demi konflik bergulir, membaca pembaca pada sebuah pelukan hangat di akhir cerita. 

Satu hal yang diajarkan oleh Tokue kepada Sentaro—dan kepada kita semua—adalah: dengarkan apa yang dibisikkan kacang merah. Dengan kelembutannya Tokue membuat Sentaro memahami apa yang dikatakan oleh pepohonan, hujan, bahkan kelopak sakura yang turun. Kisah ini memberikan rasa hangat dalam dada saat selesai membacanya. Aku berharap, pesan manis ini dipahami pembaca, Anda, kalian, sebagai sebuah cara menikmati hidup dengan sederhana, tetapi menyenangkan.

Cerita bergulir lamban di awal, seperti khas penulis Jepang yang menggunakan struktur Kishõtenkentsu. Yang harus dilakukan adalah menikmati ceritanya di awal sebelum berjumpa dengan beraneka kegelisahan yang menimpa kedua tokohnya. Tenang, jangan kuatir. Walau terkesan lambat di awal, cerita ini dituturkan dengan sangat manis. Kata-kata dan penataan kalimatnya mengalir, terjemahannya pun cakep. Jujur, aku membaca buku ini dengan bahagia karena sebelumnya aku sempat mengintip tulisan seseorang yang cukup ternama, dengan tulisan yang cukup berantakan. Sedih, sebab banyak penulis-penulis muda yang membuat beliau ini sebagai tuntunan dan acuan dalam belajar menulis.

Kembali ke Dora Haru. Tokoh yang tidak terlalu banyak di dalam buku ini membuat kisahnya mudah dinikmati. Penggambaran setting latar dan waktu yang jelas sangat menyenangkan. Durian Sukegawa, atau yang bernama asli Tetsuya Sukegawa, menuliskan kehangatan Jepang di saat sakura bermunculan.

Novel ini telah menjadi best seller international dengan berbagai macam ulasan baik atas kisahnya yang menyentuh. Pada 2017, buku ini memenangkan Le Prix des Lecteurs du Livre de Poche kategori Pilihan Pembaca dari penerbit Perancis, Le Livre de Poche. Pada tahun yang sama, novel ini difilmkan dengan sutradara Naomi Kawase, dan pertama kali ditayangkan di Cannes Film Festival. Trailer  film Sweet Bean Paste bisa dilihat di sini.  Aku bahagia, betapa gambaran di film ini sangat sesuai dengan imajinasiku saat membaca bukunya.

Aku tidak akan menulis sinopsisnya di sini. Bacalah sendiri, kisah manis yang menghangatkan hati ini. Banyak hal yang bisa didapat dari buku ini. Menilai orang lain janganlah dari masa lalunya saja. Seseorang bisa berubah, banyak hal yang bisa mempengaruhi sikap dan bisa menjadi semakin baik. Buku ini juga mengajarkan untuk memberi kepercayaan pada harapan, memupuknya, dan tetap menjaganya. Buku ini menginspirasi, sangat layak untuk dibaca. 

"Karena itulah aku membuat kudapan. Aku membuat makanan manis untuk dapat dimakan orang-orang sehabis menangis. Dengan begitu, aku pun bisa hidup"~Yoshii Tokue.

Jangan tunda, mari membaca buku ini. Satu-satunya yang kulakukan setelah selesai membaca buku ini adalah mengambil napas panjang. Oh, satu lagi. Kudekap buku ini erat-erat.

Judul Buku: Pasta Kacang Merah
Penulis: Durian Sukegawa
Penerjemah: Astri Pratiwi Wulandari
Editor: Ruth Pricilia Angelina
Jumlah halaman: 240 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua, November 2022

#windyeffendy #resensibuku #pastakacangmerah #duriansukegawa 

No comments