Ngabuburit Ngabuburead

Ngabuburit, siapa saja juga pasti tahu. Istilah yang diambil dari bahasa Sunda sebetulnya, yang kemudian justru menasional dengan makna sebagai kegiatan menanti waktu berbuka puasa. 

Dalam bahasa Sunda, ngabuburit diambil dari frasa ngalantung ngadagoan burit, yang berarti "bersantai sambil menunggu sore menjelang magrib." Akhirnya, istilah ini menjadi beken di penjuru Nusantara. Waktu ngabuburit sering dimaknai sebagai momen kebersamaan dan pertemuan bersama teman, kerabat, atau saudara, yang menjadi identitas Ramadan di Indonesia. Jangan salah, istilah ngabuburit sudah masuk KBBI!


Bukan Sekadar Berkumpul

Semakin ke sini, ngabuburit bukan menjadi sekadar kumpul-kumpul. Banyak aktivitas menarik yang dileburkan dalam ngabuburit. Yang paling jelas dan pasti adalah berburu takjil. Dengan banyaknya influencer lokal dan ungkapan "siapa saja bisa tampil di dunia maya". berseliweranlah aneka informasi tempat berburu takjil yang unik di berbagai kota. Kadang, yang mendapat julukan "hidden gem" yang semakin diserbu.

Banyak juga yang mengisi ngabuburit sambil berolahraga ringan. Tipsnya juga sudah bertaburan di media sosial. Apalagi saat ini, persoalan hidup sehat dan cara mencapainya sudah banyak dibahas. Ramadan sekaligus menjadi waktu yang tepat untuk menjadi semakin sehat.


Tren Ngabuburead Saat Ini

Kegiatan komunitas, termasuk komunitas membaca atau komunitas penulis, juga mulai menggaungkan ngabuburead, alias menghabiskan waktu dengan membaca buku lalu direkam dan dibagikan ke grup WhatsApp atau ke media sosial. Seru juga. Mau tak mau, jadi membaca buku lagi. Walau yang dibagikan hanya berkisar satu menit atau beberapa alinea saja, tetapi kegiatan ini menjadi menarik.

Satu, setiap pelaku ngabuburead pasti membaca buku. Kalau awalnya hanya satu alinea, bisa jadi dalam prosesnya bisa berlembar-lembar. Alhamdulillah bila satu buku bisa habis; walau yang dibagikan secara audio hanya satu alinea.

Dua, bisa banyak buku yang dibaca. Break sejenak dari kegiatan, lalu mengambil buku untuk ngabuburead, bisa semakin mengurangi tumpukan buku yang terus dibeli tapi tak pernah dibaca. 

Tiga, mendapat referensi buku tambahan. Biasanya, buku yang dibaca akan ditampilkan fotonya, dikirim juga ke dalam grup WhatsApp. Nah, bisa jadi teman lain akan tertarik untuk membaca buku yang sama. Koleksi (to be read) pun bertambah. 

Empat, delicious time killer. Mendengarkan rekaman suara teman-teman yang membaca buku, cukup menarik. Berbagai mode dan cara membaca yang berbeda-beda, membuat kita ikut mengamati dan belajar hal baru pastinya. 


Membaca Keras dengan Rasa

Banyak cara menghabiskan waktu saat Ramadan. Tanpa meninggalkan membaca Al-Qur'an dan beribadah lainnya, tidak mengapa mencoba hal baru di satu waktu. 

Sudah pernah mencoba membaca keras atau yang disebut read-a-loud? Nah, ngabuburead ini adalah bentuk lain dari membaca keras, tentu saja. Bedanya, yang ini direkam, dan dibagikan. Bila menggukana alat yang proper, misal dengan mikrofon mini yang bisa merekam suara dengan baik, hasilnya tentu akan lebih paripurna.

Alih-alih membaca dengan nada suara yang lempeng-lempeng saja, bagaimana bila membaca dengan memasukkan rasa? Pura-pura jadi pemeran drama radio, begitu. Seru sekali melakukannya. Memainkan intoasi, menghayati dialog, walau suara pas-pasan. Kapan lagi, ya, kan?




No comments