Setelah Ramadan yang tak pernah sama, terbitlah satu demi satu hari Lebaran yang juga tak pernah serupa. Dari anggota keluarga yang masih lengkap, lalu runtuh satu per satu hingga tibalah aku pada lebaran paling sepi yang pernah kualami.
Semuanya bermula ketika kakak iparku meninggal dunia di Februari 2020. Sebuah kejadian yang sebenarnya sudah bisa ditebak akan tiba pada waktunya, sebab penyakit autoimun yang dideritanya sudah mencapai titik tertinggi. Namun, tak urung semua anggota keluarga besar tetap terpukul. Kejadian itu adalah sebuah kehilangan pertama dalam keluarga kami. Selama ini, sebagai keluarga dokter, ayah dan ibuku bersikap seolah kami semua kebal terhadap kematian. Walau secara normatif disebut-sebut: semua akan dipanggil pada waktunya; ketika saat itu tiba, dunia tetap hancur berantakan.
Satu demi Satu Meluruh
Yang paling memukul kedua orang tuaku adalah kepergian kakak iparku terjadi tepat hari di ulang tahun ayahku. Di keluarga ibuku, peringatan hari lahir dan perayaannya adalah matter. Hal itu dibawa ke keluargaku, yang membuat ayah dan ibuku selalu membuat jadi besar setiap ada yang berulang tahun.
Sangat berbeda dengan di keluarga suamiku yang tak pernah merayakan ulang tahun. Suamiku pun selalu menyikapi segala sesuatu dengan tidak berlebihan, tenang, dan tidak heboh. Seratus delapan puluh derajat dengan yang terjadi di dalam keluargaku. Jadilah, dia adalah penenang dan pengajarku dalam kehidupan, menuntunku untuk tidak bereaksi secara meluap-luap baik dalam kesedihan ataupun kegembiraan.
Ketika kakak iparku berpulang, aku menjadi salah satu orang berkepala dingin yang tak larut dalam emosi berlebihan. Yang ternyata, satu dua orang dengan sikap seperti itu sangat dibutuhkan dalam situasi chaos yang tiba-tiba, seperti kala tibanya kematian.
Kembali pada urusan lebaran. Derai-derai air mata ibuku selalu ada setiap kali lebaran. Teringat sang kakak ipar, jatuh kasihan pada anak-anaknya, dan terikat iba pada kakak sulungku yang sendirian. Aku tidak menyalahkan, tetapi juga tetap bersikap biasa, tidak turut berlarut dalam duka yang tak kunjung surut.
April 2021, tepat di bulan Ramadan, ayahku berpulang. Semakin dalam kedukaan ibuku, meratapi kepergian ayahku berkepanjangan. Aku pun tak menyalahkan ibuku dengan segala rasa sedihnya, tetapi kembali aku harus menjadi Power Rangers Pink yang harus selalu kuat dan siaga serta mampu berpikir jernih ketika yang biasanya menjadi panutan dan panduan justru luruh tak tentu arah. Walau sebenarnya, aku pun merasa sangat kehilangan. Namun, tangisan itu hanya tertinggal di dalam dada.
Puzzle yang Tak Lagi Rekat
Tahun berikutnya, huru hara terjadi di keluarga adikku. Situasi tidak mengenakkan terjadi sehingga ia memutuskan tidak pulang di lebaran tepat. Selain urusan pekerjaannya yang belum selesai, ia juga enggan bercengkerama dengan keluarga mertuanya. Itu pilihannya karena keputusan untuk keluarga kecilnya memang ada di tangannya. Namun, yang mungkin tidak diperhitungkannya adalah rasa kehilangan ibuku yang makin menjadi.
Lebaran kali itu, hanya istri dan anak-anaknya yang datang ke Jawa Timur. Adikku baru hadir di kota kecil ibuku dua minggu setelah lebaran, setelah keluarga kecilnya kembali ke Jakarta. Kepingan puzzle yang dulu rekat ternyata mulai hilang satu per satu.
Dan lebaran kali ini, sungguh terlalu sepi. Jauh sepi.
Anak sulungku memutuskan untuk tidak pulang ke Surabaya. Wisuda adiknya di bulan depan terlalu dekat dengan lebaran kali ini. Pilihannya adalah pulang di wisuda adiknya tanpa harus pulang lebaran, atau pulang lebaran langsung sampai wisuda adiknya. Untuknya, pilihan kedua sangat sulit karena banyak pekerjaannya di Jakarta yang tidak bisa ditinggal terlalu lama. Pulang balik lebaran dan wisuda datang lagi akan menghabiskan biaya yang terlalu besar. Keputusannya kukuh: pulang saat wisuda adiknya dan tak pulang saat lebaran.
Hanya aku, suami, dan anak bungsuku yang pulang ke kota kecil itu. Di sana, hanya ada ibuku. Adikku memutuskan tidak pulang sekeluarga karena alasan ekonomi; dan juga masalah yang masih sama, keengganannya berurusan dengan keluarga istrinya. Masalahnya sudah terlalu berakar sehingga aku pun tak sanggup berkomentar lebih jauh. Kakakku pun sama. Ada alasan yang membuatnya tidak bisa kembali ke rumah ibu lebaran kali ini.
Selalu Jadi Ksatria
Akhirnya, hanya ada kami bertiga dan ibuku, melewati lebaran yang terlalu sepi ini. Aku, tentu saja masih menjadi Zena the Warrior Princess dan bersikap bagaikan penyelamat dunia yang tak bisa menangis dan tetap tertawa di berbagai kesempatan. Hanya satu kali, satu kali saja, aku menangis tanpa henti di kamar mandi karena kekesalan hatiku terhadap banyak hal. Namun, keluar dari kamar mandi, aku kembali menjadi ksatria baja hitam.
Patah, dan tak ada yang tumbuh. Kepatahan itu dirasakan berkali-kali oleh ibuku. Dan aku tidak bisa menjadi ranting yang patah pula. Aku harus menjadi penyangga pohon yang nyaris runtuh. Namun, apakah aku bisa?
Sampai hari ini, detik ini, aku masih bisa. Entah bila nanti aku harus menyerah kalah. Setidaknya sampai saat ini, aku masih berusaha tersenyum walau hatiku mungkin telah retak.
#lebaranterlalusepi #windyeffendy #idulfitri #maaflahirbatin #sendiri


No comments
Post a Comment