Dulu, tahun baru rasanya begitu berarti. Setiap pergantian tahun, semangat untuk membuat resolusi baru sebagai penanda mulainya langkah baru begitu bergelora. Semakin lama, tahun baru terasa semakin biasa saja. Yang ada justru penyesalan-penyesalan akan banyaknya hal yang belum diselesaikan atau ditunaikan.
Demikian pula, saat angka tahun berganti dari 2025 ke 2026. Bagi saya, itu hanyalah sebuah pergantian hari sekaligus perpanjangan deadline. Iya, deadline alias tenggat waktu. Tenggat untuk apa? Nyaris segalanya.
Dalam pekerjaan sebagai editor dan tukang desain pada tata letak dan cover, project yang belum selesai di Desember 2025 berarti belum bisa ditutup di akhir tahun. Pembayaran mundur, pekerjaan harus diatur ulang, tentu saja. Beberapa project memang demikian. Ada yang karena klien mengatur ulang tenggat pribadi mereka sehingga otomatis tenggat pengerjaan juga mundur. Ada yang karena data kurang sehingga klien tidak puas dan ingin melengkapinya—akhirnya program penulisan menjadi mundur, project menjadi molor.
Ternyata, beberapa teman yang bekerja di bidang kreatif yang sama pun demikian. Desember 2025, bukanlah masa liburan untuk kami, melainkan masa kejar tayang yang harus dipenuhi. Pilihannya adalah selesai dan tutup buku project, atau diperpanjang ke 2026. Masalahnya, di awal tahun, semua pergerakan melambat. Pitching banyak dimulai kembali, pekerjaan pribadi di kantor bertumpuk sehingga respons klien melambat, dan sebagainya. Dan inilah dia, hari terakhir di Januari yang juga masih berkutat dengan project-project yang belum selesai.
Sementara target pribadi apa kabar? Jangan salah, sama pusingnya. Salah satu target yang tercapai di 2025—alhamdulillah—adalah terbitnya buku solo pertama saya. Inersia, sebuah kumpulan cerita pendek, berhasil keluar ISBN di Desember 2025. Selanjutnya, cetakan kedua sudah dalam proses. So relieve! Alhamdulillah wa kuli hal.
Namun, jangan salah. Yang belum tercapai juga banyak. Tentu saja target kecil bulanan banyak yang memeleset hingga di hari ini. Ada beberapa penyesalan terhadap kurang disiplinnya diri, tetapi sebisa mungkin saya membuatnya sebagai pecut sakti untuk melesat lebih cepat lagi, bukannya mengurung diri dalam kesedihan.
Pencapaian lainnya yang cukup bisa dibanggakan adalah habit baik berolahraga. Sejak saya menemukan kolam renang yang sangat nyaman, saya memberanikan diri menyiapkan diri untuk berlatih dengan proper—mulai dari baju renang, topi renang, kaca mata renang, sampai memperbaiki teknik berenang dan menghitung waktu olahraga dari persiapan hingga selesai. Harus efektif, tepat, dan tidak buang-buang waktu.
Sampai-sampai ada yang menjuluki saya adalah atlet. Hoo, masih jauh kalau saya harus dilabeli atlet. Saya berenang sejak kecil, dan renang menjadi penyembuh tubuh yang terdiagnosa skoliosis sejak sepuluh tahun lalu. Selain itu, saya menyebut berenang sebagai tempat bermeditasi, alias meditasi biru saya, untuk berpikir, merenung, dan memutuskan sesuatu—sambil berenang. Ketika berenang sambil berpikir; atau lebih tepatnya berpikir sambil berenang, rasanya saya bisa menemukan solusi dari beberapa masalah yang sedang saya hadapi.
It's really works! Badan lebih tegak, kaki lebih kuat, pikiran lebih jernih. Bila di 2025 saya menutup tahun dengan target 1.000 m dalam waktu 60 menit, Januari 2026 ini saya berhasil menaikkan pencapaian menjadi 1.322 m dalam waktu 75 menit—rekor tertinggi. Bila dibuat rata-rata, sekitar 1.250 meter dalam waktu 75 menit, berarti 250 meter dalam 15 menit. Itu masih sangat lamban, Ferguso! Berenang skala siput.
Seorang coach yang saya kagumi pernah berkata, "Cita-cita boleh tidak masuk akal. Cara mencapainya yang harus masuk akal."




No comments
Post a Comment