MOCCA ATAU MOCHA?

Aku pernah menulis jatuhnya diriku berkeping-keping ketika seekor kucing kecilku, Haru, harus menyerah pada keganasan kucing garong di luar rumah karena kelalaianku menutup pintu depan. 

Seminggu setelah itu kami berempat pulang ke Jombang, membawa Mio dan Mochi yang mulai mencari-cari keberadaan Haru. Kami semua butuh stess release. 

Masuk ke rumah Mami, aku terpaku pada satu kucing kecil cantik yang duduk diam di bawah kursi belakang dekat meja setrikaan, menatapku dengan matanya yang bulat memikat, memesonaku dengan bulu tiga warnanya yang lebat. Segera aku lemparkan barang bawaanku entah ke mana. Lalu kuhampiri dia—tentu saja setelah salim Papi Mami. Enggak gitu juga, Marimars.

Lalu, dia terdiam dalam pelukanku. Merebahkan kepalanya di dalam lekukan lenganku, dia memejamkan mata. Cinta, apakah ini dirimu? Tentu bukan, Rangga, aku bukan Cinta.

Dia pun diberi nama Mocca—sound be like: Moka. Dia pun ikut pulang ke Surabaya. Dia yang duduk manis di mobil, di atas pangkuanku, melihat ke kiri ke kanan ke arah jalan yang melesat cepat di jendela samping Pak Kusir yang duduk di muka. 

Begitulah, Mocca menjadi bagian dari hidupku (baca: kami) sampai saat ini. Fia, Ica, aku, Papa, saling bergantian memeluk dan menggendongnya, termasuk tidur bersama dia. 

Bukan, dia bukan pengganti Haru. Haru will still remain in our hearts. Dia Mocca, another universe. 

Sampai saat ini, Fia dan Ica dan aku masih meributkan cara menulis namanya: Mocca atau Mocha? Atau Moka?  Atau Mokka? Atau Moqa? Atau Mokha?

Buatku, dia Mocca, kiriman cinta dari Allah untuk membuatku hidup kembali. 

#windyeffendy #mocca #mocha #newcat #perlima #jurnalagustus #perlimamenulishari8

Tulisan ini telah tayang di FB:

https://www.facebook.com/windyrachmawati/posts/10222526939774515

Share:

0 Comentarios