SEBUAH PERJALANAN, SEBUAH MUHASABAH [Part One]

Mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita. Bukan ingin riya', bukan ingin merasa lebih baik dari yang lain. Saat ini, connect dengan sangat kuatnya, kembali merasakan rasa yang saat itu mengalir di darahku, nafasku, diriku, walaupun aku tidak ikut kali ini. Tapi saat ini, semua rasa dan semua memori terpanggil kembali, karena vibrasi dan koneksi yang kami miliki.. Alhamdulillah. Hanya ingin berbagi.. Smoga bermanfaat..

------------------------------------------------------
SEBUAH PERJALANAN, SEBUAH MUHASABAH

Part One



Desember lalu. Tiada berani mengucap satu kata pun pada siapapun, akankah aku jadi berangkat, bersujud di tanah Alloh, saat itu. Aku hanya berani berdoa. Dan berbagai ujian pun datang. Dari pembayaran, sulitnya melakukan suntik, kartu yang dikirim entah kemana rimbanya selama seminggu, ayah tercinta yang harus masuk rumah sakit saat mendekati tanggal keberangkatan, dilanjutkan dengan jadwal jaga di rumah sakit, lalu si kecil yang belum approve untuk ditinggal, pekerjaan yang masih ada saja yang harus dibereskan.. rasanya diri terbelah menjadi beberapa bagian yang rasanya mode switch on off gak karuan bergantian. Aku hanya berdoa, mengikutinya.. mengalir saja. Rasa tidak yakin itu masih ada saja..
Hari keberangkatan pun tiba.. Berpamitan dengan my beloved dad yang masih terbaring di rumah sakit itu adalah berat. Aku tidak tahu sama sekali apa yang akan kutemui di sana, dan aku juga tidak berani membayangkan apapun yang kutinggalkan di sini. Dilanjutkan dengan pamit kepada my little girl. Masih menjelang subuh jauh, harus kubangunkan.. dan bukan cuma air matanya, tanganku ditarik selama hampir sepuluh menit dengan kata-kata "Mama jangan pergi.." Ya Alloh, ya Robb, aku hanya bisa berusaha membatukan hati, memberikan pengertian, menjauh dari pelukannya, karena akan semakin memberatkan aku untuk berangkat.. Suamiku tercinta yang akhirnya bisa menyerahkan my little girl kepada ibuku, hand over. Ngebut dari rumah ke bandara, yang ada di kepala cuma blank. Sampai di airport, antrian masuk gate depan sudah mengular.. dan di papan jadwal tertera bahwa my flight number is : boarding..Ya Alloh, bila kami tertinggal pesawat ke Jakarta ini, maka suamiku akan terlambat memberikan trainingnya, dan belum tentu kami bisa mendapatkan flight gantinya dengan cepat karena sebegitu penuhnya bandara hari itu.. Suamiku nekad, melambaikan tiket ke petugas, dan menjelaskan situasinya..., dan Alhamdulillah.. mereka meloloskan kami. Need for speed!!! Lari dari gerbang depan, passing x-ray scanner, check in, lari ke ruang tunggu.. dan nama kami sudah dipanggil.... Indeed, it was a race! Dan Alhamdulillah kami sampai di tempat duduk dengan tepat waktu, dan menangislah saya. What a day..
Alhamdulillah, kami berangkat ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, sudah dijemput oleh pihak hotel. Sungguh aku hanya mengikuti bagaikan air, mengalir, aku tak tahu akan kemana. Antara lelah, bingung, dan blank.. Wallahu Alam, aku hanya mengikuti imamku. Manasik, training berjalan dengan lancar. Bertemu banyak teman baru, ngobrol, bercerita tentang mengapa, siapa, dari mana.. Masih di tanah air, masih tiada terasa. Qiyamul Lail, persiapan, dan ketika kami akan menaiki bis itulah.. Labaik Allohuma Labaik.. jlebb, semua gambaran terlintas di kepala, yang ditinggalkan, yang diharapkan, yang akan ditemui, menyerah aku pada air mata..
Perjalanan itu pun, masih panjang. Menuju ke bandara, menanti di lounge, bergantian sholat dan antri, masuk pesawat.. Di pesawat, membantu beberapa teman baru yang baru pertama kali naik pesawat, membuat mereka nyaman dan menikmatinya, dan tidur. Serasa seperti tidur yang nikmat setelah beberapa hari ini, Alhamdulillah..
Mendarat di Jeddah, antri imigrasi. Beyond everything, flashing back memories, I knew I can through it. Still doing fun with friends there, giggling, and waiting, of course. Selesai imigrasi, kusempatkan mengabadikan sequence di bandara, untuk dikirim ke Fia Ica..
Masuk bis, terlelap sebentar sambil mendengarkan sang muthowif.. And I suddenly awaken. My Lord, where is it, itulah aku ucap saat itu. Kebetulan saat itu aku duduk sendirian dalam bis, dan aku pun menikmati kesendirian itu.. Tersadar aku, ketika sang muthowif mengatakan, sesaat lagi kita akan memasuki kota Makkah..
Dan.. tampaklah semua cahaya indah itu.. di langit malam Makkah yang indah.. Semakin dekat.. semakin terasa indahnya.. Alloh, Ya Alloh, aku benar di sini adanya.. Dan seketika tampak di hadapanku menara itu, cahaya itu, Ya Alloh, luluh lantak aku, mohon ampun aku pada Mu, hanya Dirimu lah Ya Alloh yang telah membawaku ke sini.. Fokus pada Alloh semata, semua energi yang terpancar dari cahaya itu seakan terserap oleh diriku dan aku pun meleleh.. Di situlah, aku baru yakin seyakin-yakinnya.. Ternyata memang aku berada di Tanah Suci, entah bagaimana caranya dengan segala kuasa Alloh, aku di situ..
Dari titik itulah, aku fokus dan melupakan hampir semua yang kutinggalkan di tanah air, hanya kepada Alloh aku akan memberikan segalanya, hidup dan matiku... Semua yang pernah diajarkan suamiku dengan Quantum Vibration-nya, terasa sangat membantu menemukan kembali apa yang sebenarnya aku cari di sini..Fokus pada satu hal, masuk ke dalamnya, terasa melayang dan semakin kuat karena di Tanah Suci ini begitu kuat semua energi itu terasa.Dzikir, mohon ampun, tiada pernah berhenti terucap... bersama air mata. Penuh rasa, bahagia, sedih, takut, tapi yang utama ada Yakin! Haqqul Yakin.. karena tanpa kuasa Alloh tidak mungkin aku berada di sini, setelah semua yang kulalui, setelah semua perjuangan itu. Aku menyerap semua rasa yang kualami saat itu. Aku melakukan flashback perjalanan dalam visualisasiku sendiri. Perjalanan hidupku, bukan sekedar perjalanan menuju umroh ini.. Ya Alloh, apa saja yang telah kulakukan, apa saja dosa yang sudah pernah kutorehkan dalam hidup ini?Baru aku mengelilingi Al Haram, belum aku masuk ke dalamya, sudah bang bang bang bang, serasa ditampar dan dijeduk-jedukkan aku..Air mata itu tidak berhenti sedikitpun... sampai tiba di jalan utama dekat hotel..Terpana aku.. ribuan orang berbondong keluar dari Al Haram, selesai menunaikan sholat shubuh.. Ya Alloh.. mereka sebanyak ini.. ini mungkin masih sedikit dari jumlah jamaah yang sebenarnya, tapi sebegitu banyaknya. Merinding aku..
Bagaimana nanti di hari kiamat? Ada dimanakah aku?
Seberapa banyak orang yang nanti akan berjalan menuju padang Mashyar?
Allohu Akbar.. Allohu Akbar.. Allohu Akbar..
Aku luluh lantak...
[to be continued...]




Share:

0 Comentarios