SEBUAH TELEPON DARI SEORANG KAWAN

by Windy Kurniawan on Friday, December 4, 2009 at 2:27pm · as posted at Facebook


Suatu siang, aku sedang naik angkot bersama anakku Ica, di jalanan Semarang. Masih berbelok di Tugu Muda, menuju Jalan Pandanaran, dengan tujuan ke sebuah toko buku terkemuka di Semarang. Hanya untuk nunut main game gratis sembari membunuh waktu menunggu jam pulang sekolah kakak..

Tiba-tiba Hp-ku berdering. Sebuah nomor yang tidak aku kenal. Tapi ada rasa penasaran yang membuatku mengangkat telepon itu. Ternyata, seorang teman lama. Semangat dan ceria terbersit dari suaranya, yang membuat aku ingin ngobrol lama, tapi aku urungkan dulu.

"Eh, sebentar ya. Aku masih di angkot. Entar lagi nyampe, kamu tak kabari deh," kataku.
"Oke," katanya. "Tapi biar aku aja yang nelepon ya," katanya lagi.
"Oke de," jawabku, kemudian aku hang it out.

Beberapa saat kemudian, tibalah kami di toko buku itu. Setelah membelikan anakku segelas ice tea, aku sms pada temanku tadi. Sejurus kemudian, Hp-ku berbunyi lagi. Dari teman yang sama.

Ngobrol ngalur ngidul, cerita ini itu, mengawali pembicaraan kami. Sambil menunggui Ica main game di Edugames Corner, aku ngobrol banyak dengannya. Temen yang satu ini, alhamdulillah sudah sukses. Didampingi istri yang cantik, pintar, dan mencintainya, juga dikaruniai anak-anak yang sehat dan lucu-lucu.

Sejauh yang aku tahu, hidupnya bahagia.

Tapi satu pertanyaannya, yang dilontarkan olehnya kemudian, membuatku terkesiap. Kukira ia bercanda.
"Win, bagaimana menurutmu nek aku mau kawin lagi?"

Aku tertawa saja. "Hahaha, maksude opo?"
"Lho, iyo e, lha aku masih muda. Menurutmu piye?"
"Hm, kamu itu kenapa? Sekarang kalo kamu nanya aku, ya aku gak setuju. Apa belum cukup satu, buatmu?"
"Gitu ya..," katanya.

"Gini deh, itu menurut aku. Aku pernah bertanya pada suamiku. Bisakah kamu adil Mas, bila kamu berniat seperti itu? Dia jawab tidak. 'Aku tidak bisa, Ma' katanya. Berarti haram baginya untuk melakukan poligami. Jadi sampai kapanpun jawaban itu aku pegang. Sekarang, kenapa tidak kamu tanya pada istrimu?" tanyaku.

"La kamu edan po. Mana mungkin hal seperti ini aku tanya pada istriku. Bayangkan perasaannya to? Makanya aku nanya ke temen-temen perempuanku yang lain..," katanya.

"Nah, sekarang pendapat orang kan beda-beda. Kalo aku, aku tidak setuju. Eh, kamu apa mau nulis buku?"
Dia tertawa. "Enggak. Aku niat mau kawin lagi. La gimana, aku masih muda, aku masih kuat. Kenapa tidak, untuk kawin lagi?"

Ganti aku yang ngakak. "Coba. Gimana perasaan istrimu. Kamu pikir deh, bisakah kamu bersikap adil pada keluargamu yang sekarang. Bisakah kamu tetap membagi hartamu untuk mereka semua? Kalau kamu sekarang sudah berkecukupan, alhamdulillah, kenapa tidak kamu sempurnakan saja keluargamu? Sempurnakah ibadahmu yang sekarang, sempurnakan tujuan hidupmu. Kenapa malah harus dibagi?"

Dia terdiam sebentar. "Gitu ya?"
"Hehehe.. iya. Itu menurut aku. Kamu nanya soalnya."

Temanku tertawa."Oke deh. Kalau gitu, makasih ya. Semoga selamat dan lancar semua ya Win. Semoga bahagia dan diberkahi keluargamu.. "
Aku tertawa. Lucu sekali temanku yang satu ini. "Amin.. makasih ya. Semoga kamu juga..."
Telepon terputus.

Lama setelah itu, aku merenung. Begitukah?

Ibuku pernah bercerita. Di saat seorang pria sudah merasa mapan, secara materi dan rohani, dia akan merasa nyaman. Dan di zona nyaman itu, bisa saja seorang pria merasa tantangannya sudah habis, dan ia akan mencari tantangan baru. Sebuah tantangan baru yang bisa diartikan sebagai ladang yang baru, yang berarti kemudian muncul fenomena yang disebut sebagai 'Puber Kedua'. Yang lalu disebut-sebut sebagai suatu masa saat pria mau jatuh cinta lagi itu...

Well, apa harus seperti itu? Sejatinya cinta itu tidak terbagi. Yang pertama, tentunya hanya kepada Allah semata. Yang kedua, kepada Allah semata.. yang ketiga, juga kepada Allah semata.. karena Allah itu sesungguhnya Maha Pencemburu..


**confusing mind**
wind

Share:

0 Comentarios